10 gejala demensia Alzheimer yang harus diwaspadai

10 gejala demensia Alzheimer yang harus diwaspadai

Jakarta (ANTARA) – Sebagian orang masih menganggap demensia atau demensia adalah bagian dari proses penuaan yang normal, bahkan jika dibiarkan penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian.

Dalam rangka memperingati bulan Alzheimer sedunia yang kesembilan, Yayasan Alzheimer Indonesia (ALZI) kembali menggalang kesadaran masyarakat tentang demensia.

Demensia sendiri merupakan gejala penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Sedangkan demensia Alzheimer adalah penurunan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, ingatan, dan pengambilan keputusan seseorang dan biasa disebut demensia.

Baca juga: Kenali demensia Alzheimer selama pandemi COVID-19

Baca juga: Jangan Marah, Efeknya Bisa Terasa Saat Tua

Orang dengan pengalaman Alzheimer mengalami penurunan fungsi otak termasuk fungsi kognitif yang meliputi memori, bahasa, fungsi visuospasial dan penurunan fungsi eksekutif. Penyakit yang dapat menyebabkan kematian hanya dapat diperlambat melalui pengobatan tetapi tidak dapat disembuhkan sepenuhnya.
Oleh karena itu, penting untuk segera melakukan deteksi dini ke ahli saraf saat mengetahui gejala demensia Alzheimer. Berikut 10 gejala demensia Alzheimer, dikutip dari pernyataan ALZI, Jumat.

Masalah memori

Salah satu gejala yang paling jelas adalah melupakan hal-hal seperti yang baru saja terjadi, parkir, hingga janji temu. Selain itu, penderita demensia juga cenderung mengulang cerita yang sama dalam percakapan.

Sulit untuk fokus

Penderita demensia biasanya menunjukkan gejala yang sulit untuk difokuskan, termasuk tugas sehari-hari seperti memasak. Karena sulit berkonsentrasi, penderita demensia mengalami kesulitan untuk melakukan perhitungan sederhana dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya untuk melakukan suatu pekerjaan.

Kesulitan melakukan aktivitas normal

Gejala demensia lainnya adalah kesulitan merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari seperti kebingungan tentang cara mengemudi atau mengelola keuangan.

Baca juga: Diet populer ini bisa membantu melawan demensia

Baca juga: Apakah minum kopi bisa mengurangi risiko demensia?

Baca:  New York Fashion Week akan tetap digelar

Disorientasi

Mengalami disorientasi atau kebingungan tentang waktu merupakan bagian dari gejala yang sering ditunjukkan oleh penderita demensia. Disorientasi ini tidak hanya terkait waktu tetapi juga tempat sehingga mereka seringkali tidak mengetahui jalan pulang.

Kesulitan memahami visuospasial

Kesulitan yang dihadapi penderita demensia adalah kesulitan membaca, mengukur jarak dan menentukan jarak. Kesulitan lain yang dialami penderita demensia adalah membedakan warna, tidak mengenali wajah seseorang di cermin, membenturkan cermin saat berjalan sehingga tidak tepat menuangkan air ke dalam gelas.

Gangguan komunikasi

Penderita demensia sulit berbicara dan menemukan kata-kata yang tepat. Karena itu, mereka sering berhenti di tengah percakapan dan bingung melanjutkan hukumannya.

Keluarkan item dari tempatnya

Lupa menyimpan barang adalah gejala lain penderita demensia. Tak jarang, mereka akan menuduh orang lain mencuri atau menyembunyikan barang tersebut.

Keputusan yang salah

Ciri penting lainnya adalah ketidakcocokan pakaian, seperti kaus kaki dengan warna berbeda di kiri dan kanan. Penderita demensia juga cenderung tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Penarikan dari asosiasi

Hilangnya semangat atau inisiatif untuk melakukan aktivitas atau hobi yang biasa dinikmati, hal ini seringkali diiringi dengan hilangnya semangat berkumpul dan bersosialisasi dengan teman.

Perilaku dan perubahan kepribadian

Perubahan emosional yang drastis juga merupakan tanda Alzheimer. Mereka sering menjadi bingung, curiga, depresi atau terlalu bergantung pada anggota keluarga. Tak jarang, penderita demensia merasa frustasi dan putus asa di rumah dan di tempat kerja.

Baca juga: Suka makan makanan pedas yang berisiko terkena demensia

Baca juga: Lansia butuh rutinitas latihan fisik, tapi jangan dipaksa

Baca juga: Penyebab hipertensi dan diabetes bisa menurunkan fungsi otak

Reporter: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
HAK CIPTA © ANTARA 2020