Atasi mual hingga nyeri sendi, bumil bisa konsumsi bahan herbal

Atasi mual hingga nyeri sendi, bumil bisa konsumsi bahan herbal

Jakarta (ANTARA) – Masyarakat Indonesia, termasuk ibu hamil dan nifas, dapat mengonsumsi ramuan herbal saat mengalami kondisi tidak nyaman, seperti mual dan muntah, edema, dan nyeri sendi.

“Tidak hanya bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman, ramuan herbal juga bisa memberikan nutrisi seperti vitamin dan mineral yang dibutuhkan selama kehamilan dan setelah melahirkan,” kata herbalis Asri Saraswati Iskandar dalam siaran persnya, tertulis di Jakarta, Jumat.

Data Survei TASC Snapcart pada Agustus 2020 yang melibatkan 4.635 orang menunjukkan bahwa 40 persen masyarakat di Indonesia masih menggunakan jamu, dan 56 persen orang minum madu.

Baca juga: Perawatan kulit yang harus dihindari selama kehamilan

Baca juga: Jaga "mood" selama hamil dengan rajin berolahraga

Asri menjelaskan, madu misalnya memiliki mineral berupa kalsium, tembaga, mangan, besi, fosfor, seng, aluminium. Zat besi dalam madu membantu meningkatkan kadar hemoglobin ibu selama kehamilan dan setelah operasi caesar.

Bahan lainnya yaitu cengkeh kaya akan betakaroten, zat besi, magnesium, seng, vitamin B6, C, dan K.

Selain itu, gingerol juga mengandung gingerol untuk memberikan efek analgesik yang kuat dan sangat membantu untuk radang sendi, menenangkan saraf, dan mengurangi rasa mual. Jahe juga tinggi kalium, tembaga, magnesium, mangan, vitamin B5 dan B6.

Dua ramuan lain yang biasa digunakan, kunyit dan jahe, mengandung kurkumin yang dapat melindungi dari anemia dan tekanan darah tinggi. Serat tinggi juga mengontrol tingkat "kolesterol jahat".

Kunyit dapat membantu meredakan peradangan yang menyebabkan edema, selain risiko mastitis, juga berfungsi untuk mengobati luka dalam, jahitan luar, dan infeksi luka pascapartum. Sedangkan jahe – meningkatkan produksi ASI selama menyusui.

Ramuan lainnya, jahe hitam, yang melonggarkan rahim setelah melahirkan, dan ketumbar yang mengandung protein, kalsium, dan zat besi dibutuhkan untuk meningkatkan produksi ASI selama menyusui.

“Meski berasal dari bahan dan tumbuhan alami, namun dalam mengonsumsinya tetap harus memperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan oleh tubuh kita. Oleh karena itu, kita bisa merasakan apakah ramuan yang dikonsumsi memiliki efek yang baik bagi tubuh,” kata Asri.

Baca:  Minum jamu agar sehat boleh-boleh saja, tapi ada syaratnya

Baca juga: Mulailah pola hidup sehat sebelum hamil

Baca juga: Sebelum hamil, kesehatan calon ibu harus optimal

Dokter Combiphar, dr. Carlinda Nekawaty menyarankan mereka yang memiliki kondisi khusus seperti hamil atau menyusui sebaiknya mengetahui kondisi tubuhnya setelah mengkonsumsi madu atau herbal, untuk melihat reaksi kecil dan besar.

"1000 hari pertama kehidupan, termasuk 270 hari dalam kandungan, merupakan masa-masa penting yang akan mempengaruhi kesehatan dan perkembangan bayi di masa depan. Untuk itu, bijak dalam memprioritaskan kesehatan saat hamil dan nifas harus menjadi prioritas bagi ibu," dia berkata. .

Saat ini madu dan bahan herbal sudah tersedia dalam bentuk kemasan. Menurut Carlinda, ibu hamil dan menyusui perlu memperhatikan beberapa hal saat mengonsumsi madu dan herbal agar tetap aman untuk dirinya dan janinnya.

Pertama, lihat jenis zat yang akan dikonsumsi untuk mengetahui reaksi alergi atau efek samping yang mungkin berbahaya bagi ibu dan bayinya.

Jika digunakan dalam bentuk kemasan, bacalah informasi nutrisi yang tertera pada label untuk mengetahui kandungan, ukuran porsi dan juga persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) pada ramuan tersebut.

Kedua, ketahuilah waktu yang tepat untuk meminum ramuannya. Biasanya, konsentrasi zat mencapai puncaknya sekitar 45-90 menit setelah konsumsi dan di dalam ASI sekitar 15 menit kemudian, sehingga berpotensi masuk ke dalam tubuh bayi yang masih menyusui.

Oleh karena itu, dianjurkan untuk tidak mengonsumsi ramuan tersebut pada masa awal menyusui. Pemakaian jamu bisa dilakukan jika selang waktu menyusui lebih dari dua jam.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter atau tabib, untuk mengetahui tingkat penggunaan ramuan yang benar dan efek samping yang bisa ditimbulkan bila dikombinasikan dengan pengobatan konvensional, terutama bila ibu memiliki kondisi kesehatan bawaan tertentu dan perlu perhatian khusus.

Baca juga: Suplemen yang direkomendasikan untuk ibu hamil menurut para ahli

Baca juga: Lima buah terbaik untuk ibu hamil

Baca juga: Makanan yang bisa mempercepat kehamilan

Reporter: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
HAK CIPTA © ANTARA 2020