Fashion ramah lingkungan pasti lebih mahal?

Fashion ramah lingkungan pasti lebih mahal?

Jakarta (ANTARA) – Ada anggapan yang melabeli mode Koleksi ramah lingkungan yang membuat koleksi pasti bernilai lebih tinggi dari rata-rata. Bagaimana reaksi seorang aktris fashion?

Chitra Subyakto, Founder dan Creative Director sejauh Eye of the View, mengatakan materinya ramah lingkungan demi kepentingan mode keberlanjutan memang lebih mahal daripada bahan lain seperti poliester.

"Sebagai tencel“Linen, kapas, tidak semurah poliester karena prosesnya membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak sehingga ujung-ujungnya tidak menjadi sampah,” kata Chitra dalam jumpa pers Tinkerlust, Selasa (22/9).

Namun barang-barang tersebut dapat mengurangi limbah tekstil. Chitra mengatakan, berdasarkan penelitian sampah di Indonesia oleh Greenpeace, sampah tekstil merupakan salah satu yang dominan, selain plastik sekali pakai.

Baca juga: M Missoni dan Yoox meluncurkan kolaborasi mode berkelanjutan

Baca juga: Tetap bergaya dengan produk ramah lingkungan yang berkelanjutan

"Banyak merek gunakan polyester karena harganya terjangkau, tapi akhirnya menjadi limbah permanen dan menyakitkan bagi kita semua. "

Untuk berkontribusi pada bumi, setidaknya keseimbangan antara pilihan produk mode untuk membeli. Jika Anda masih punya barang mode cepat, usahakan juga menggunakan produk dari bahan ramah lingkungan yang tahan lama dan tidak mudah terkena tempat sampah.

Otomatis, umur pakai juga bisa lebih lama, sehingga berkontribusi pada pengurangan limbah tekstil.

"Gunakan produk setidaknya selama 10 bulan, kami telah mengurangi emisi gas karbon hingga 10 persen."

Chitra memilih untuk menciptakan gaya berbusana yang timeless dengan bahan yang ramah lingkungan agar bisa dikenakan kapan pun, tidak terkikis oleh tren yang berubah dengan cepat.

Samira Shihab, CEO dan Co-Founder pasar Tinkerlust online, kata mode keberlanjutan di Indonesia masih belum umum seperti di Eropa atau Amerika Serikat. Namun, situasinya lebih baik daripada satu dekade lalu.

Baca:  Tips memotret "sunset" pakai smartphone ala Dion Wiyoko

"Lalu mode cepat banyak, banyak orang membeli karena gaya, bukan kualitas. Misi kami adalah untuk mengajari pengguna cara membuat perubahan kecil dalam hidup. "

Platform ini awalnya dibuat untuk menjual barang mode wadah produk kurasi yang masih layak digunakan.

Aliya Amitra, COO dan Co-Founder Tinkerlust, mengatakan saat itu masih banyak orang yang malu membeli barang bekas meski platformnya menjamin kualitasnya tidak kalah dengan barang baru.

Membeli pakaian bekas, meminjam, menyewa, mengganti atau menjahit sendiri merupakan salah satu alternatif penyediaan pakaian baru, penerapan slow fashion untuk mengurangi sampah fashion dan sampah tekstil yang digemari oleh komunitas Zero Waste Indonesia.

Melalui ajakan ini, masyarakat diajak untuk membeli baju baru sesuai kebutuhan, tidak sekedar tergiur dengan tren.

Baca juga: Tinkerlust membuat peragaan busana virtual dengan merek ramah lingkungan

Baca juga: Tips IFC agar pemain industri fashion Indonesia tetap kompetitif

Baca juga: Coba "slow fashion", jalani tiga bulan tanpa membeli baju baru

Reporter: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
HAK CIPTA © ANTARA 2020