Lawe, usaha kerajinan yang berdayakan warga lokal

Lawe, usaha kerajinan yang berdayakan warga lokal

Kami melakukan pelatihan dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Pulau Timor, membangun kolaborasi dengan seniman tenun di pelosok

Jakarta (ANTARA) – Pendiri label Lawe, Adinindyah, punya resep khusus untuk melestarikan kain tenun di Indonesia sekaligus menyemangati perempuan lokal dan mengatasi kesulitan pembiayaan usahanya.

“Terkadang ketika kita ingin memaksimalkan keuntungan, di sisi lain kita juga harus efisien dalam berbisnis. Sementara itu, pada saat yang sama, kita juga harus mampu menjawab tantangan seniman tenun, melihat isu pemberdayaan perempuan yang menjadi nilai di Lawe,” dia berkata. dia berada di acara kreatif sosial online pada hari Rabu.

Di Lawe yang berpusat di Yogyakarta, kain tenun tradisional dikelola menjadi produk yang fungsional atau siap pakai. Bahan dasar diperoleh melalui kerjasama langsung dengan penenun.

Lebih jauh, ide menciptakan suatu produk tidak semata-mata berpihak pada kebutuhan pasar tetapi ide dari pengrajin yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Mereka akan membawa hasilnya ke rumah mereka sendiri.

“Kami sangat terbuka untuk bekerja dengan siapa saja di industri tenun, termasuk yang terpinggirkan dan difabel. Selama mereka memiliki keterampilan yang kami butuhkan, kami akan menerimanya,” kata Adinindyah.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mereka dapat memberikan kesejahteraan bagi karyawan, misalnya, sehingga mereka dapat menjaga agar “dapur terus bermunculan” dan menyekolahkan anak-anak mereka.

Dalam hal dukungan finansial, Lawe memiliki pendanaan bertahap yang awalnya berasal dari kantong pribadi, kemudian keluarga, koperasi dan tingkat selanjutnya mereka mendapatkan dana melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN.

Lawe yang berdiri pada tahun 2004 juga mendapat dukungan finansial dari perbankan dalam bentuk pinjaman dan saat ini sedang dalam proses membuat kesepakatan dengan investor.

Baca:  Ide memotret tema "staycationgraphy" pakai smarthone dari Dion Wiyoko

"Kami sedang dalam proses membuat kesepakatan dengan investor yang berdampak dan kami berharap tahap ini dapat diselesaikan," kata Adinindyah.

Ia mengatakan, bekerja sama dengan lembaga yang memiliki program pelatihan juga dapat mendukung tumbuhnya usaha kecil.

"Organisasi layanan bisnis untuk pesta bimbingan dan bimbingan, maka bisnis penting untuk diperoleh bimbingan dan bimbingan. Lawe adalah anggota dari dua BSO (Organisasi Dukungan Bisnis) keduanya mendukung pertumbuhan bisnis skala kecil. Kami berbagi ilmu dan praktek secara rutin, ”ujarnya.

“Kami sedang melakukan pelatihan dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Pulau Timor, untuk menjalin kolaborasi dengan seniman tenun di pelosok,” tambah Adinindyah.

Baca juga: Kemenparekraf merekomendasikan pekerja kreatif dan artistik untuk mendapat bantuan

Baca juga: Kemenparekraf ajak upaya kreatif melalui #BeliK KreatifLokal

Baca juga: Bekraf mengumpulkan data pelaku ekonomi kreatif

Reporter: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
HAK CIPTA © ANTARA 2020