Strategi tekan “stunting” jadi 14 persen 2024

Strategi tekan "stunting" jadi 14 persen 2024

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah menargetkan kejadian tersebut kerdil di Indonesia akan turun menjadi 14 persen pada 2024, seperti yang diarahkan oleh Presiden Joko Widodo pada rapat kabinet terbatas Agustus lalu. Stunting merupakan kondisi gizi buruk kronis yang menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak, ditandai dengan tinggi badan lebih tinggi dari standar umur,

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Purnawan Junadi optimistis Indonesia bisa mengurangi jumlahnya kerdil sesuai target jika AARR atau penurunan tahunan rata-rata bisa mencapai 3,8 persen.

"Jumlah kerdil di bawah 14 persen atau 680 ribu kasus berarti kerdil baru harus maksimal 10 persen atau turun 3,80 persen per tahun (rata-rata angka penurunan tahunan, "ujarnya dalam diskusi media online tentang kemitraan multi sektor dalam upaya mengurangi kerdil di Indonesia, Rabu.

Menurut Purnawan, hal tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa program yang sebenarnya sudah dilakukan di Indonesia, seperti memberikan edukasi gizi kepada masyarakat khususnya remaja putri dan ibu hamil, menjamin akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan balita di puskesmas dan posyandu, dan akses air bersih, dan kebersihan yang memadai.

Baca juga: Wapres meminta kepala daerah berkomitmen untuk mengurangi prevalensi stunting

"Jika kita melakukannya dengan baik, kita bisa optimis (kerdil bisa turun sesuai target), (tapi) harus mengikuti konteks situasi, ”kata Purnawan.

Khusus untuk akses layanan kesehatan bagi ibu hamil dan remaja, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto melalui pesan video yang diputar saat diskusi memastikan akan terus berjalan meski di tengah wabah COVID-19 yang sedang mewabah, tetap saja. menerapkan protokol kesehatan. Begitu pula dengan penyiapan suplemen untuk ibu hamil, penyiapan suplemen vitamin A untuk ibu menyusui dan makanan pendamping (MPASI).

Di sisi lain, Menkes juga menekankan aspek promosi berupa sosialisasi kepada ibu hamil dan keluarganya untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan. kerdil. Sosialisasi hal ini dilakukan dengan melibatkan PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, RT dan RW serta relawan dan diharapkan bisa menjadi gerakan bersama di masyarakat.

Menteri Kesehatan juga menekankan pentingnya mendukung kemitraan berbagai sektor dengan pola pentahelix.dll yaitu melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, LSM, akademisi dan media, sehingga diharapkan ada konsentrasi kebijakan maupun program intervensi yang sesuai dengan strategi nasional pencegahan. kerdil.

Baca juga: Kementerian Kesehatan meminta kabupaten melakukan penyesuaian menghadapi stunting akibat COVID-19

Terkait kerjasama tersebut, Kepala Perwakilan Ahli III Kantor Staf Kepresidenan, Dr. Brian Sriprahastuti, merekomendasikan dua konsep yaitu diprogram atau tampil secara langsung yang merupakan penggalangan dana, menyediakan grafik pintar atau poster terkait kerdil Seperti yang telah dilakukan oleh Yayasan 1000 Hari di 26 pulau di Indonesia, kemudian kemitraan dalam advokasi dan komunikasi.

Untuk menciptakan kemitraan ini, menurutnya, pemerintah harus bisa mengatur pemangku kepentingan dengan bijak dan akurat.

Baca:  Budidaya tanaman obat di tengah pandemi

Pusat Keunggulan Stunting

Presiden Joko Widodo mengatakan pada Agustus ada total 10 provinsi kerdil yang tertinggi dan salah satunya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Inilah salah satu alasan diluncurkannya proyek Stunting Center of Excellence (CoE) di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Data menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti keamanan pangan, keanekaragaman pangan yang terbatas, dan penyakit yang berulang merupakan penyebabnya kerdil di lebih dari 270.000 anak di bawah usia 5 tahun di NTT atau lebih dari 40 persen populasi anak pada kelompok usia ini di wilayah tersebut.

Deputy Director 1000 Day Fund Jessica Arawinda, salah satu pelaksana proyek, mengatakan Stunting Center of Excellence direncanakan menjangkau 21 puskesmas (atau sebanyak 100.000 ibu dan anak) dalam upaya mengurangi kerdil sebanyak 5-10 persen di Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Selain itu, proyek yang didanai oleh Roche Indonesia dan didukung oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemerintah daerah lainnya ini juga diharapkan dapat menjadi model pemecahan masalah. kerdil secara berkelanjutan.

Baca juga: Setwapres: Ibu usia dini memiliki peran strategis untuk mencegah stunting

"Dalam dunia yang tidak menentu saat ini, kami memahami kebutuhan akan kegiatan filantropi yang bermakna serta kontribusi dari sektor swasta untuk membantu teman-teman kami yang berada di garis depan dalam mencapai prioritas kesehatan masyarakat seperti kerdil, ”Ujar Presiden Direktur PT Roche Indonesia, Dr. Ait-Allah Mejri.

Kedepannya, Stunting Center of Excellence akan menjadi pusat distribusi teknologi dan pelatihan inovatif serta penguatan sistem kesehatan yang difokuskan pada tenaga kesehatan, kader puskesmas dan posyandu di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Barat (NTT) dan nantinya sebagai pusat inovasi dan intervensi bagi pencegahan dan pengurangan. kerdil yang juga mencakup seluruh Indonesia.

Jessica mengatakan, sebagai pusat pelatihan dan penggunaan peralatan dan teknologi baru, Stunting Center of Excellence akan berkontribusi dalam pencapaian target pengurangan. kerdil di Indonesia menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Kementerian Kesehatan mengatakan ada beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mempercepat penurunan tersebut kerdil di Indonesia, antara lain menurunkan angka kasus anemia ibu hamil dari 48,9 persen menjadi 20 persen pada tahun 2024, kemudian ibu hamil dengan disabilitas kronis (KEK) dari 17,3 persen menjadi 10 persen, dan balita gizi buruk dari 10,2 persen menjadi hanya 7 persen.

Dengan kerjasama atau kolaborasi berbagai pihak (multisektoral) dan implementasi strategi pembangunan kesehatan khususnya dalam pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, semua pihak harus konsisten optimis target penurunan prevalensi. kerdil Indonesia 2024 akan tercapai dengan baik.

Baca juga: Setwapres: Pencegahan stunting terus menerus meski terjadi wabah

Baca juga: Kementerian Kesehatan: Stunting bisa memengaruhi gangguan metabolisme

Baca juga: Mensos: Butuh upaya luar biasa untuk mencapai target 14 persen

Oleh Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
HAK CIPTA © ANTARA 2020